IMPIAN
Lembar Pertama
Aku masih termenung dihadapan tumpukan kertas pada dinding kamarku. Ada puluhan potongan kertas kecil yang tertempel acak kini, membuatku sedikit tersenyum karena tak sadar setelah sekian lama mading ini ramai juga karena ulahku. Malam ini rasanya ada yang berbeda, pandanganku terperangkap pada catatan-catatan impianku. Seperti terhenyak sendiri. Impian itu, apa yang menggerakkanku untuk menuliskannya ? impian itu, apa yang akan membuatku bergerak untuk mewujudkannya di masa depan ? aku tak tahu.
Aku hanya tahu bahwa impian itu hampir terwujud seluruhnya. Tapi tentang impian, setiap orang pasti memilikinya, juga punya cara tersendiri untuk mengejarnya. Karena mewujudkan impian, ada seninya juga.
“aku ingin menjadi seorang penulis sastra, spesialis kesedihan” batinku membaca catatan impian itu.
Aku tak dapat menahan tawa, jadi terbayang, insfirasinya apa saat itu sehingga menuliskan impian seperti itu.
Tepat diatasnya, adalah alamat sebuah blog yang selama ini menjadi tempat pembuangan coretan-coretan pendekku yang kemudian kusebut sendiri sebagai bagian dari sastra yang kuciptakan. Tidak cukup banyak sebenarnya postingan-postingan yang ada, hanya ketika melihat-lihat kembali, kadang terlintas di bantinku “impian penulisku mendekatiku”.
Aku tidak punya rekam jejak yang mendukung untuk impian itu. Biasanya, penulis-penulis hebat pastilah sudah memiliki minat membaca dan bakat menulis sejak duduk di bangku SMP bahkan SD.
Aku terlambat, baru mulai suka membaca beberapa buku-buku sastra seperti cerpen, novel, dan puisi-puisi setelah dipenghujung SMA, itupun kubaca disaat ada kesempatan saja. Juga tak pernah mengikuti kompetisi apapun yang berhubungan dengan itu kecuali saat awal duduk di bangku perkuliahan.
Kebetulan saat itu momentnya menarik, ada sebuah kompetisi mengenai tulis menulis yang diadakan fakultas, Dekan Cup sebutannya. Agak bingung sebenarnya, ingin ikut karena ingin tahu kemampuanku, juga tidak ingin ikut karena takut malu. Tapi karena rasa ingin tahuku sedang menggebu-gebu, akhirnya kuputuskan untuk ikut berpartisipasi dalam kompetisi tahunan itu.
Dari dua kategori yang kuikuti (puisi dan cerpen), kedua-duanya juga mendapat juara ke-2 yang entah dari berapa peserta. Tapi dari situ, aku cukup bahagia mendengar kabar kemenangan itu, karena ini adalah pertama kali dan memang benar tidak ada salahnya jika mau mencoba.
Hingga kini, dua piala simbol kemenangan itu berbaris rapi diatas meja di kamarku, dan jika kulihat lagi, batinku bersorak kembali “memang benar, impian penulisku mendekatiku”.
Menulis puisi tentang kartini adalah kompetisi kedua yang kuikuti sejauh ini. Saat itu pesertanya sedikit lebih luas dari sebelumnya, sudah se-universitas bahkan umum juga. Mulanya tawaran itu datang lewat jejaring sosial facebook yang sampai ke akun pribadiku, karena temanya kartini, biar sedikit nasionalis, kutulis puisi tentang itu. Tak lama, hasilnya cuma juara tiga, tapi “alhamdulillah” gumamku.
Setelah itu kuputuskan untuk tidak mengikuti kompetisi apapun. Aku hanya ingin fokus memulai menulis sebuah buku. Alasannya sederhana, karena sungguh menarik saja, punya sebuah buku dengan namaku tertulis di-cover-nya sebagai sang penulis buku. Bahagianya tentu kupersembahkan terutama untuk orang tuaku, agar mereka tahu, bahwa aku tak hanya bisa membaca, tapi juga menulis buku.
“impian penulisku mendekatiku” batinku.
---------------------------
Lembar Kedua
Suatu ketika, ada seorang yang tak kukenal meninggalkan sebuah komentar pada salah satu foto di account instagramku, komenternya manis.
“keren, banyakin lagi tulisan-tulisan di blog, suka banget baca blognya” demikian salah satu penggalan komentar itu.
Menanggapi itu, membuatku sedikit canggung sebenarnya. Tidak menyangka saja, dibalik isengnya memposting tulisan pendek, ternyata ada yang berkenan singgah membuang-buang waktunya untuk membaca tulisan itu, apalagi sampai disukai.
Wah, ada sedikit debar, seperti orang yang jatuh cinta, bahagia tentunya.
Aku pernah banyak terinsfirasi pada sekumpulan tulisan milik seorang yang tak kukenal, bukan blogger professional, dan kutemukan blognya tanpa sengaja. Pemiliknya adalah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di jakarta, namanya aku lupa. Tulisannya super menarik, keren. Saat itu, hampir setiap malam kubaca kembali tulisan-tulisannya di blog, hingga kuposting juga sebuah tulisan yang terinsfirasi darinya.
Aku juga mengenal seorang teman di sebuah tempat kursus bahasa inggris (marvelous) yang sama, tepatnya di kampung inggris, Kediri. Dia adalah kak Riza Ayu Tivanie, datang dari medan, mahasiswa farmasi Universitas Sumatera utara waktu itu.
Paska perkenalan itu, akhirnya kutemukan kalau ternyata kak vanie ini juga gemar sekali memposting tulisan di blog pribadinya. Tulisannya khas gaya wanita-wanita yang sudah sering menulis diary, sangat menarik membacanya. Apalagi saat itu dia memposting tulisan semua tentang pengalamannya mengenai kampung inggris, meski hanya sebulan, ceritanya dikemas sepanjang layaknya sinetron, mulai dari part pertama hingga berikutnya.
Kita banyak share setelah itu, tentang blog dan apapun. Terkadang juga sekedar bermain logika yang tak tahu maksudnya apa. Bahkan aku gemar sekali menunggu postingan terbaru di blog kak vanie, mereka-reka maksudnya, dan lainnya. Selain asik membacanya, juga cukup belajar dari gaya tuturnya yang nyaman untuk difahami. Perkenalanku dengan kak vanie sungguh tidak sia-sia tentunya, aku jadi mulai lebih giat lagi untuk menulis dan memposting di blog karenanya, bahkan dia pernah bilang “minimal satu postingan satu bulan, biar blognya gak mati”, dan nasehat itu kujalankan akhirnya.
Aku punya banyak teman yang menyimpan tulisan-tulisannya di blog, sebut saja Irsyad Madjid, Putri Retno, Rita anggun, Rani Ashri, dan masih banyak lagi. Semunya menginsfirasiku untuk tetap konsisten menulis dan memposting di blogku. Sampai akhirnya terlintas difikaranku;
“aku ingin menjadi blogger professional saja”.
---------------------------
Lembar Ketiga
Bermula dari suatu siang, di Madrasah Aliyah, kelas tafsir baru saja berakhir.
“Akhdiat, besok tolong gantikan saya mengajar di kelas 2 ya, saya ada urusan” ujar ustadz Syahruddin kepadaku.
Teman-temanku memandangiku. Ini adalah sebuah pemandangan baru di kelas, karena tak pernah sebelumnya ust. meminta menggantikan beliau mengajar dari kelasku. Aku spontan kaget saat itu, kujawab iya karena tak bisa menolak, dan akhirnya jawaban itu sekaligus menjadi tamparan diwajahku sendiri, “mampus” gumamku.
Teman-temanku memandangiku. Ini adalah sebuah pemandangan baru di kelas, karena tak pernah sebelumnya ust. meminta menggantikan beliau mengajar dari kelasku. Aku spontan kaget saat itu, kujawab iya karena tak bisa menolak, dan akhirnya jawaban itu sekaligus menjadi tamparan diwajahku sendiri, “mampus” gumamku.
Aku melangkah keluar kelas dengan setumpuk tanda tanya, aku bisa apa ? kenapa aku yang ditunjuk ?. Masalahnya, di kelas sebelah banyak teman-teman yang lebih pandai dan pantas untuk menggantikan Ust. Syahruddin, tapi kenapa aku ?. Aku mulai membuka dan membaca kembali kitab Tafsir Al- Ahkam yang akan kubawakan esok hari, juga sharing sedikit dengan Mujiburrahman, saudara dan teman seasrama yang kini melanjutkan studinya di cairo, Mesir.
Harinya tiba, aku masuk di kelas 2 jurusan agama. Itu adalah pengalaman pertamaku berdiri di depan kelas sebagai pengganti pengajar, canggung sebenarnya, dan akhirnya mengalir begitu saja.
Ternyata itu hanyalah permulaan. Ust. Syahruddin memintaku lagi menggantikan beliau, berkali-kali, dan bukan hanya di kelas 2 saja, di kelas 3 juga bahkan.
Saat-saat berikutnya, Ust. Idris juga mulai memintaku menggantikan beliau mengajar bahasa Arab dan Aqidah Akhlak, sampai pada akhirnya, “aku ingin menjadi guru” batinku.
Pengalaman itu mengajariku, menjadi pengajar itu sungguh tidak mudah. Tapi dibalik itu semua, rasanya sangat menyenangkan. Tak heran kenapa begitu banyak orang yang ingin menjadi guru. Aku sampai candu untuk tampil di depan kelas lagi, berbicara layaknya seorang guru. Dan akhirnya kesempatan itu datang lagi, di Universitas Muhammadiyah Malang
Kesempatan itu berawal saat aku mengikuti tes untuk menjadi salah satu Instruktur PATI (Pelatihan Aplikasi Teknologi Informasi) di kampus. Ini adalah program pelatihan tahunan untuk menyetarakan kemampuan komputasi seluruh mahasiswa baru, dan hasilnya akupun lulus. Aku beridiri lagi, berhadapan lagi dengan sekumpulan penuntut ilmu di kelas, dan itu sungguh menyenangkan.
Entahlah. Mengajar itu sungguh menyenangkan bagiku. Mungkin lantaran sejak dulu orang-orang dekatku adalah seorang guru. Ibuku adalah guru agama di SD dan kepala sekolah TK mario dan TPQ. Ayahku dulu juga pernah menjadi pengajar di Ibtidaiyah. Tanteku seorang kepala sekolah, dan pamanku bahkan mendirikan pondok pesantren sendiri di Palu, Sulawesi tengah.
Naluri pengajar itu mungkin mengalir dalam darahku juga. Aku bahkan ditawari pamanku untuk menjadi salah satu pengajar di pesantrennya di palu selepas lulus Madrasah Aliyah saat itu, tapi aku lebih memilih kuliah saja, apalagi saat itu tengah mempersiapkan melanjutkan kuliah di cairo, Mesir. Karena beberapa situasi, termasuk ricuhnya mesir, akhirnya UMM menjadi persinggahanku menuntut ilmu.
Suatu pagi yang tenang, di ruang tamu. “kamu mau jadi apa nak” tanya ibuku, ayahku juga menunggu jawabanku.
“aku mau jadi dosen ma” jawabku.
“aku mau jadi dosen ma” jawabku.
---------------------------
Lembar Keempat
Kalau ada satu hal yang perlu kusesalkan dalam hidupku, maka jawabannya adalah saat impian Mesirku gagal didepan mata.
Siapa yang tak tahu novel dan film “ketika cinta bertasbih” ? sebuah film yang masyhur. Menceritakan kehidupan mahasiswa Universitas Al-Azhar, kiblat Universitas Islam di dunia kalau aku menyebutnya. Kuliah di universitas itu adalah impianku jauh sebelum novel dan film KCB masyhur. Bagaimana tidak, hampir sebagian besar ulama dan ustadz yang ada di pesantrenku adalah lulusan cairo, keilmuannya tak diragukan lagi. Tokoh-tokoh itulah yang banyak menginsfirasiku, membuatku berani untuk bermimpi “aku ingin kuliah di cairo juga”.
Batinku berontak menolak membicarakan ini. Membuatku mengingat-ngingat kembali akan historinya, batalnya, kacaunya, dan semua yang berhubungan dengan itu.
Aku bahkan pergi jauh ke sulawesi barat untuk mendalami kaedah bahasa arab beberapa bulan selepas lulus di Madrasah Aliyah. Juga mengahabiskan dua bulan berikutnya untuk memperlancar tahfidz qur'an, bahkan telah tuntas memasukkan berkas pendaftaran dan embel-embelnya di kampus UIN Alaudin Makassar. Apa masih kurang jelas ? Semua usaha-usaha ini adalah perwujudan nyata dari besarnya niatku.
Situasinya tiba-tiba berubah. Mesir kacau, banyak korban yang berjatuhan, rezim yang berkuasa juga tidak dapat mengendalikan kekacauan di negeri piramid tersebut. Bahkan aku mendengar salah satu cerita kelam dari teman di kairo lewat akun jejaring sosial, miris sekali mengetahu semua itu.
Mahasiswa-mahasiswa indonesia dipulangkan untuk menghindari semua itu. Alhasil sejurus kemudian, pemerintah mengumumkan bahwa tak ada mahasiswa indonesia yang diperkenankan melanjutkan studi ke mesir untuk kala itu.
Apa yang bisa kulakukan saat itu, hanya kecewa, bahwa ada usaha yang hampir terasa sia-sia. Hingga akhirnya tak tahu harus berbuat apa, tak mungkin untuk menunggu lagi. Seperti yang semua orang tahu, bahwa menunggu itu menyakitkan. Iya, dan aku sudah lelah menjadikan itu rutinitas harianku.
Aku memilih untuk kuliah di malang saja. Dan beberapa bulan setelah itu, orangtuaku memperoleh kabar bahwa aku bisa berangkat ke mesir saat itu. Namun, semuanya sudah terlanjur, kesempatan itu sudah larut, seperti gula yang samar bersama adukan teh ibu disetiap pagi, hanya lantaran tak mungkin meninggalkan kuliah yang telah beberapa bulan kurutini. Juga karena telah mengeluarkan modal yang sungguh tak sedikit untuk ukuran keluarga kami.
Impian ini besar, tapi gagal. Inilah mengapa jika ada hal yang perlu kusesalkan, maka inilah jawabannya. Ayahku adalah orang yang paling bersemangat mendukung impian itu, meski dibeberapa situasi dukungan beliau itu menjadi tekanan dan beban tersendiri bagiku. Takut jika tak dapat memuwujudkan impian itu, dan khawatir jika mengecewakan dukungan kerasnya itu. Dan benar akhirnya, impian itu gagal, aku kecewa, demikianpun beliau. Sampai pada akhirnya, “ini bukan akhir dari semuanya”batinku.
