Sentimen - Bercerita Eps. 18
January 11, 2016
Kau
baru kusentuh lagi. Ada banyak bongkahan debu diatasmu, pertanda betapa
malasnya daku untuk mengukirkan ceritaku padamu, tentang fluktuasi
kehidupan yang selama ini mendewasakanku.
Kubuka
lembar pertamamu, membawaku pada lembaran masa lalu, tiga tahun yang
lalu. Ingin kuingat lagi, kenapa aku menulisimu ? apa tujuanku ? dan
membukamu kembali mungkin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu.
Lembar
pertama memberiku sebuah jawaban, mengingatkanku akan mimpi-mimpi itu,
tentang bagaimana besarnya impianku untuk menjadi seorang penulis buku.
Jauh
sebelum itu, banyak penulis besar yang mengesankanku, tertarik pada
karya-karya agungnya, sehingga menjadi sebuah ilham tersendiri bagiku,
bagaimana kalau daku juga sehebat mereka-mereka itu ?.
Lembaran berikutnya, mengingatkanku akan inginku mengabadikan setiap momentku dalam lembaran-lembaran kosongmu.
Cerita
itu membawaku pada sebuah asmara masa lalu, antara meninggalkan
seseorang yang sungguh terbaik, hanya untuk sebuah kasmaran yang akupun
tak yakin dapat meraih itu. Dan ternyata benar dugaanku, lantas tak
ingin kuteruskan perjuanganku, keputuskan untuk beristirahat dari
sentimen semacam itu, cukup kecewa diriku.
Lembaran
berikutnya, mengingatkanku akan seorang yang cukup mengesankanku,
membuatku menulis kembali setelah sekian lama vakum akan hal itu.
Mungkin
alasan sederhananya adalah dia membuatku merasakan lagi apa yang ku tak
mau, lantaran sudah terlajur mengklaim ingin beristirahat dari sentimen
semacam itu. Dan buktinya, sejenis kasmaran dengannya itulah yang
menginsfirasiku menulisimu kembali seperti dulu.
Lembaran
berikutnya, mengingatkanku akan seorang yang sungguh bijaksana. Mungkin
lantaran setiap keputusan yang dibuatnya, tak semua orang dapat
melakukannya.
Lembaran
ini membawaku pada sebuah periode baru untuk mewujudkan impian
penulisku, yakin akan komitmenku, dan belajar ikhlas terhadap setiap item kehidupan yang tak pantas jadi milikku.
Lembaran berikutnya, mengingatkanku akan agungnya kekecewaanku, impian penulisku luntur hari itu.
Yaa
setelah siap untuk menerbitkan sebuah buku, ku urungkan niatku, kubuang
naskahku, hanya lantaran konten dalam naskah itu tak pantas lagi
bagiku. Kenapa ? realitanya sudah berubah, dan aku sadar bahwa drama
kehidupan ini, tuhanlah sutradara dan penulis seknarionya, bukan aku.
Aku hanyalah bagian kecil dari scene didalamnya, dan cerita yang
kubangun dalam naskahkupun sudah tak relevan lagi, sungguh jauh dari
ekspektasiku.
Lembaran
berikutnya, mengingatkanku akan seorang dan usahku untuk menyakini lagi
perasaanku, inikah perwujudan dari komitmen itu ? hingga kinipun masih
kucari jawaban itu.
Dari semua coretan itu, cukup buatku mengenang masa lalu. karena kalau bukan aku yang menulisnya, siapa lagi ? kan begitu.
mungkin memang tak banyak yang kutulis, jelas tak dapat mewakili keseluruhan dari cerita-ceritaku.
Banyak
sekali insan yang lebih penting tapi tak termaktub dalam kitab kisahku,
kenapa ? karena memang kisah disini cendrung hanya pada fenomena
sentimen yang melandaku, cukup buat kenanganku saja, bukan untuk
kujalani, bukan begitu ?. Terimakasih.

4 comments
ulala galau rek galau
ReplyDeletehaha nggk dongg :D
DeleteEveryone gets mature at a time, especially if you are in high school and you are stuck for help, to write me a dissertation you then come to know how you have to live life by working hard.
ReplyDeleteHardworking is a good thing but if you can save your time by approaching a good writing company then you have to utilize that time in some other things.
ReplyDelete