Tapi rindu kepada siapa ? kamukah ?
lah, kamu itu siapa ?
Sempat bertanya-tanya tentang kamu, benarkah rindu ini untukmu ?
Lantas spontan hatiku menjawab "iya kamu", dan logikaku menyetujui itu.
Bagaimana jika kukatakan begitu ?
Aku telah melihatmu,
kau begitu kebidadarian,
sudah sangat cukup membuatku tertawan.
Kau
baru kusentuh lagi. Ada banyak bongkahan debu diatasmu, pertanda betapa
malasnya daku untuk mengukirkan ceritaku padamu, tentang fluktuasi
kehidupan yang selama ini mendewasakanku.
Kubuka
lembar pertamamu, membawaku pada lembaran masa lalu, tiga tahun yang
lalu. Ingin kuingat lagi, kenapa aku menulisimu ? apa tujuanku ? dan
membukamu kembali mungkin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu.



