Aku bisa merasakan darah muda cepat alirnya dalam diri, dan khayal serta sentimen masih memenuhi jiwa, lalu tibalah gempuran cinta menimpa hati nan lugu dan polosku. Entah dari mana tibanya, seketika terbisik sejuta ilham di ruang fikirku hanya karena sejumput senyum serta sesorot tatapan sejuk seorang gadis.
Masih
merekat kuat diingatanku, bergetar tanganku ketika pertama kali menulis
tentangmu, hatiku memaksaku menulis, banyak perasaan tertampung, tapi ketika
kusentuh penaku, seketika hilang akalku, lantaran tak tahu dari mana harus
kumulai. Sejak awal sebenarnya intelejensiku terlampau daif untuk menjangkau
imajinasi yang selaras tentangmu, apalagi fatamorganamu selalu memenuhi rongga
fikirku, dan kalbuku tak kunjung mencair lantaran membeku terhipnosis oleh
kelembutanmu.
