Dentuman Keenam Belas - Bercerita Eps. 9
July 12, 2014Sore ini terlihat cukup indah. Rona jingga berbaris tipis nampak bergantung di ufuk barat. Sesekali terlihat sekumpulan burung beterbangan disela-sela cakrawala.
Seperti kebanyakan orang, aku duduk disebuah cafe menanti saat berbuka puasa. Sembari menunggu pesanan, akupun membaca beberapa tulisan di sebuah blog milik seorang yang kukagumi. Seorang yang tidak pernah ku kenal dan tak pernah kulihat. Aku menemukan tumpukan tulisannya tanpa sengaja, dengan gaya bahasa yang sederhana tapi dia mampu menciptakan alur yang begitu memikat.
Hari semakin beranjak, saat berbuka puasapun semakin hampir tiba. Cafe sudah terlihat cukup sesak oleh pengunjung. Tiba-tiba semua orang tersentak, pun aku juga. Aku tersentak saat seorang gadis dibelakangku menjatuhkan beberapa benda miliknya. Akupun berpaling, dia mulai membereskan barang-barangnya yang terjatuh dibantu temannya yang juga seorang gadis. Gadis itu lalu berjalan dan duduk tepat disamping mejaku dengan wajah sedikit malu, yaa wajah gadis itu begitu jelas terlihat dari tempatku.
Keesokan harinya, aku kembali duduk di meja yang sama. Seperti biasanya, aku menyempatkan membaca beberapa tulisan sembari menunggu temanku. Setalah berbuka, hanya ada sedikit obrolan tak jelas antara kami. Malampun berlalu.
Hari berganti, aku masih selalu menanti saat berbuka puasa di cafe ini, sebuah cafe sederhana tapi begitu menarik. Itu terbukti oleh banyaknya pengunjung. Aku duduk di meja yang sama tentunya, namun aku hanya duduk sebentar karena tiba sedikit telat, yaa ini karena kelas pronunciation selesai agak telat dari biasanya.
Beberapa hari berlalu dan aku masih duduk di mejaku, ehh meja cafe maksudnya. Setelah saat berbuka puasa tiba, ada seorang gadis datang agak tergesa-gesa dan duduk tepat di samping mejaku. Mengetahui itu, akupun tidak memperdulikannya. Setelah melahap semua santap berbuka, aku melihat gadis itu, dia terlihat meraih kaca matanya. Wajahnya seperti tak asing dibenakku. Ohh yaa aku ingat, dia gadis yang pernah menjatuhkan sesuatu dibelakangku dan duduk di meja yang sama waktu itu. Kini yang kutahu, dia hanyalah seorang gadis berkaca mata yang menjatuhkan sesuatu dibelakangku beberapa hari yang lalu.
Sore ini di hari kedelapan, aku duduk di sudut cafe ini lagi, dan lagi-lagi gadis itu duduk di meja yang sama, tepat seperti biasanya. Karena cukup penasaran, sekali lagi aku melihat gadis itu.
"Oh my god, dia melihat kearahku" gumamku dalam hati.
Tiba-tiba kutarik pandanganku. Aku tak tahu kenapa harus berpaling dari gadis itu. Yang kutahu, denyut jantungku mulai terasa tidak beraturan. Ada yang aneh ? Yaa ini sungguh aneh. Aku mulai bingung tak karuan, satu persatu keringat bercucuran membasahi keningku. Kucoba tenangkan perasaanku, hingga beberapa teguk es jeruk lewat begitu saja di tenggorokanku. Meski begitu, aku masih belum tenang, sepertinya masih menyisakan segumpal deg-degan yang tak menentu.
"Oh my god, dia melihat kearahku" gumamku dalam hati.
Tiba-tiba kutarik pandanganku. Aku tak tahu kenapa harus berpaling dari gadis itu. Yang kutahu, denyut jantungku mulai terasa tidak beraturan. Ada yang aneh ? Yaa ini sungguh aneh. Aku mulai bingung tak karuan, satu persatu keringat bercucuran membasahi keningku. Kucoba tenangkan perasaanku, hingga beberapa teguk es jeruk lewat begitu saja di tenggorokanku. Meski begitu, aku masih belum tenang, sepertinya masih menyisakan segumpal deg-degan yang tak menentu.
Sepanjang itu aku hanya diam menatap ke tabletku, berusaha menetralkan kembali dentuman di jantungku. Karena sudah terlanjur bingung, akupun mencoba mengitung dentuman jantungku. Kuhitung berkali-kali hingga aku hampir lelah. Kucoba mengitung lagi, dan tepat pada dentuman keenam belas, aku tersentak, yaa tersentak oleh suara wanita ke arahku. Kukira pelayan cafe, setelah kulihat, dan ternyata sang gadis berkaca mata itu. Dia berbicara terlalu dekat kearahku. Aku kaget, jantungku tiba-tiba berhenti berdentam, berhenti pada dentuman keenam belas.
" sering buka disini juga mr. " ujarnya.
Aku sedikit terdiam. Mata kami bertemu. Baru kali ini kulihat mata gadis itu, meski sedikit samar-samar dibalik kaca matanya, tapi aku menatapnya begitu dalam seperti didalam sinetron-sinetron. Aku gugup tak tahu harus menjawab apa, dan tak tahu harus berbuat apa. Karena yang kutahu, aku hanya ingin tetap menatap kedalam matanya.
" sering buka disini juga mr. " ujarnya.
Aku sedikit terdiam. Mata kami bertemu. Baru kali ini kulihat mata gadis itu, meski sedikit samar-samar dibalik kaca matanya, tapi aku menatapnya begitu dalam seperti didalam sinetron-sinetron. Aku gugup tak tahu harus menjawab apa, dan tak tahu harus berbuat apa. Karena yang kutahu, aku hanya ingin tetap menatap kedalam matanya.
Aku masih terpaku, terpaku didalam pandangannya, ya didalam matanya. Aku tak lagi bisa mendengar apa-apa, rasanya begitu sunyi dan tenang. Aku bahkan tak menyadari bahwa ada sebuah senyum merekah dibibirnya. Yang kutahu, menatap kedalam matanya sungguh jauh lebih indah dari apapun. Bukan karena apa, ini adalah saat pertama kali aku berani menatap jauh kedalam mata seorang wanita. Aku terdiam begitu lama, tapi gadis itu masih tetap menunggu.
" ii iya, se sering mis " jawabku terhenyak dan sedikit speachless.
Kutarik pandanganku, aku sedikit malu. Kulihat lagi, senyumnya sedikit semakin melebar, bahkan gigi rapinya mulai terlihat. Oh my god.
" ii iya, se sering mis " jawabku terhenyak dan sedikit speachless.
Kutarik pandanganku, aku sedikit malu. Kulihat lagi, senyumnya sedikit semakin melebar, bahkan gigi rapinya mulai terlihat. Oh my god.
Tak lama, gadis itu segera bangkit lalu pamit pergi duluan, aku hanya sedikit berbungkuk sembari sedikit tersenyum membalasnya.
Hari-hari berikutnya, aku tetap duduk di mejaku dan dia juga tetap duduk di mejanya. Sesekali kami bertegur sapa lalu berlalu seperti biasa. Mulai hari ini rasanya duduk di meja ini sungguh berbeda, rasanya sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Entahlah, tapi itulah kenyataannya.
Aku tidak ingin menuntut diriku untuk melangkah mendekatinya, meski rasanya begitu berbeda, tapi bagiku ini hanyalah sebuah kebetulan semata. Meski aku diam, tapi dari meja ini aku masih cukup bisa menatap kedalam matanya. Rasanya itu sudah sangat cukup dan membuatku bersyukur kepada sang pencipta. Begitu indah yaa Allah. Lalu Akupun sering bertanya-tanya didalam doa, benarkah ini cinta ?.
Aku tidak ingin menuntut diriku untuk melangkah mendekatinya, meski rasanya begitu berbeda, tapi bagiku ini hanyalah sebuah kebetulan semata. Meski aku diam, tapi dari meja ini aku masih cukup bisa menatap kedalam matanya. Rasanya itu sudah sangat cukup dan membuatku bersyukur kepada sang pencipta. Begitu indah yaa Allah. Lalu Akupun sering bertanya-tanya didalam doa, benarkah ini cinta ?.
Pada akhirnya aku tak pernah meninggalkan meja dan cafe ini. Dari sini aku bisa merasa jauh lebih tenang, tenang dengan hanya menatap kedalam sepasang mata. Yaitu sepasang mata milik seorang gadis yang pernah membuatku tersentak pada dentuman keenam belas jantungku.
Cafe Senja di Ramadhan
Pare Kediri, 12 juli 2014
Pare Kediri, 12 juli 2014

0 comments