Langkah Menuju Masa Lalu - Bercerita Eps. 7
June 09, 2014
Waktu.
Waktu terus berjalan,
tak berhenti bahkan jika kita mengancamnya. Tak bisa kembali bahkan jika kita
memaksanya untuk kembali. Hal itulah
yang membuat waktu begitu berharga.
Waktu yang kita
habiskan untuk bersenang-senang, takkan bisa kita ulangi. Kita hanya bisa
mengenangnya dan membayangkan kesanangannya. Tapi kita masih bisa merencanakan
hal yang sama kedepannya, meski waktu belum tentu akan memberikan kesempatan
itu.
Selalu ada waktu yang
indah, megah, dan berharga yang pernah kita lalu. Hal itu membuat kita rindu
akan keindahannya.
Karena selalu ada
puncak dari segala hal, maka puncak dari kebahagiaan yang kita rasakan ada pada
waktu yang telah kita lalui. Kita akan mengenang puncak kebahagiaan itu,
seperti aku yang mengenang masa laluku.
Banyak perbedaan yang
ku rasakan antara dulu dan kini. Sebuah perubahan yang sangat signifikan. Jika
sekarang menyenangkan, aku fikir dahulu lebih membahagiakan.
Bagaimana perbedaan itu
terjadi ?
Dimulai dari delapan
tahun yang lalu. Aku tumbuh di sebuah pondok pesantren kenamaan di Sulawesi
Selatan. Sebuah pondok berserambi kairo dengan lebih dari 130 cabang di seluruh
Indonesia dan Malaysia. Didalamnya seakan berada di sebuah dunia yang berbeda,
dimana pemikiran-pemikiran syariah merajalela dan kemungkaran seakan belum
ditemukan.
Kehidupan itu sungguh damai. Bisa dibayangkan, setiap saat hampir hanya ada lantunan ayat suci Al-Qur’an, gema zikir-zikir, majelis ilmu agama, pengkajian kitab-kitab syariah klasik dan kontemporer, dan nasehat-nasehat menggugah yang disampaikan para ulama kenamaan lulusan mesir, serta siraman ilmu dari ustadz-ustadz berwawasan luas nan sarat akan makna kehidupan.
Dan dimulai dari
setahun yang lalu, aku keluar dari dunia itu, lalu memasuki sebuah dunia yang
berbeda. Di dunia baru ini, pemikiran-pemikiran syariah seakan hanya
biasa-biasa saja dan kemungkaran justru merajalela. Beradabtasi di alam yang
baru ini cukup sulit, karena komposisi udaranya sungguh berbeda. Bukan hanya
sulit bernafas, tapi juga mempertahankan nilai-nilai kedamaian justru jauh
lebih sulit.
Hidup di dunia yang berbeda ini, sungguh membuatku rindu dunia dan kehidupan yang dulu. Dan aku juga sangat yakin, bahwa orang-orang sepertiku, pasti sangat merindukan masa-masa damai di dunia itu.
Tak banyak yang dapat
dilakukan, karena waktu hanya memberiku kesempatan untuk mengenangnya dan
merasakan percikan kedamaiannya.
Tak seorangpun bisa
kembali ke masa lalu, karena setiap orang punya masa depan dan pasti menggapainya.
Aku selalu berusaha
mencari cara menuju masa lalu. Merindukannya setiap waktu dan berencana
membangun alam yang serupa. Maka aku akan nampak seperti maju menyusuri masa
depanku, tapi pada dasarnya aku semakin mundur meraih kembali masa laluku.
Malang,
03 Juni 2014
0 comments