My Life My Journey - Bercerita Eps. 4
May 04, 2014
Hampir 20 tahun kini, semuanya berlalu dan tak bisa kembali.
Semenjak pertama kali menyapa semesta ini, aku berjalan begitu jauh, kadang
terhenti lalu berjalan lagi, lagi, dan lagi. Yaa life is about journey.
Karenanya ada banyak kenangan, ada banyak kesan, ada banyak harapan, ada banyak
insfirasi, ada banyak motivasi, dan semuanya membuat hidupku benar-benar hidup
( journey make my life live).
Pengembara sepertiku seakan tak punya rumah, tapi pada
dasarnya diamana-mana adalah rumahku. Mungkin bagi sebagian orang, perjalanan
ke suatu tempat hanyalah sekedar perjalanan menghabiskan masa liburan, tapi
bagiku tidak. Aku seakan hidup dari perjalanan, dan itu adalah alasan aku
hidup. Yyaa meski pada awalnya aku tak begitu bermimpi berkeliling memutari
dunia ini, akhirnya aku menyadari bahwa aku harus memijakkan kaki disetiap
sudut belahan dunia ini, karena pada dasarnya aku ditakdirkan sebagai
pengembara, yaitu seorang pengembara yang hidup dari perjalanan satu ke
perjalanan yang lainnya.
Bagaimana tidak, aku dilahirkan ditengah keluarga pengembara.
Aku lahir di negeri jiran malaysia. Ku habiskan masa balitaku disana, mulai
tertawa, mulai bermain, dan mulai mengenal dunia disana, hingga suatu waktu
diumurku yang masih sekitar 3 tahun, kamipun (ayah, ibu, dan aku) harus kembali
ke indonesia karena suatu alasan. Ini perjalanan pulang bagi kedua orang tuaku,
tapi bukan seperti perjalanan pulang bagiku, justru aku merasa seperti
mengembara ke negeri berbeda. Inilah kali pertama aku ke Indonesia.
Aku tidak mengatakan aku bukan orang indonesia, kenyataannya orang
tuaku adalah orang indonesia dan hampir 15 tahun ku habiskan umurku di negeri
ini, tapi aku juga tidak ingin mengatakan bahwa aku bukan dari negeri tetangga,
kenyataannya aku lahir disana, makan dan minum dari makanan dan minuman dari tanah
negeri tetangga ketika pertama kali menemui semesta ini. Indonesia menghidupiku
tapi malaysia lebih dulu menghidupkanku. I like this life, i wanna say, maybe i’ve
two country, right ?.
Diumurku yang masih belia, aku sudah mengenal aroma perjalanan
dan fantasinya. Meski nampak melelahkan, namun pada dasarnya menyenangkan,
bahkan sangat menyenangkan. East java is first our visit, coz my grandmathor
there. Tempat yang sangat jauh dari pusat kota, berada disudut pulau kecil
tempat kapal tampomas 2 tenggelam, yaitu masalembu island, sumenep, surabaya, east
java. Aku menghabiskan beberapa bulan disini di tengah keluargaku. Pada
dasarnya mayoritas penduduk pulau ini bukanlah masyarakat suku madura,
melainkan suku bugis, padahal pulau ini merupakan wilayah madura. Meski begitu,
semua penduduk sudah fasih berbahasa madura. Dan keluargaku hampir tak bisa
dikenali lagi kalau sebenarnya kami bukanlah orang madura, karena memang semuanya
sudah fasih berbahasa madura. Meski begitu, dalam keluarga tetap sering
bercakap menggunakan bahasa bugis maupun mandar, yaa karena pada dasarnya kami
keluarga suku bugis mandar. Sebenarnya suku bugis dan mandar berasal dari
daratan sulawesi selatan, namun seiring perkembangan negeri ini, suku mandar
berpisah dan menjadi prov. sendiri, yaitu sulawesi barat. Menurut ceritanya,
kakek ibuku adalah seorang ulama dan da’i dari tanah mandar (sulawesi barat,
sekarang), beliau mengembara dan tibalah di pulau masalembu ini, lalu beliau
menyebarkan agama islam. Menurut sejarah nasional, pulau masalembu ini
merupakan pulau tak berpenghuni yang pertama kali di temukan oleh para pedagang
bugis (sulawesi selatan) yang selalu berdagang di surabaya, karena kapal mereka
tak cukup tertiup angin sebelum sampai di surabaya, maka mereka mendarat di
masalembu dan akhirnya mereka bermukim.
Setelah cukup beberapa bulan tinggal di masalembu, kami (ayah,
ibu, aku) kemudian berangkat ke daerah kekuasaan suku banjar, yaitu kalimantan
selatan. Rute perjalananya cukup panjang dan lumayan lama, mulai dari ke surabaya
terlebih dulu, lalu ke batu licin, kemudian kotabaru, barulah ke sebuku island.
Ada hal yang sangat kontras ku rasakan saat pertama kali memijakkan kaki di
sebuku island ini, sebuah nuansa yang berbeda. Kami tinggal diujung selatan
pulau ini, sebuah desa kecil berpenduduk mayoritas bugis, lagi-lagi menurut
ceritanya, suku asli di desa ini mulanya adalah suku banjar, namun suku bugis
(sulawesi selatan) datang dan menguasai desa ini, wajar saja mereka menemukan
desa ini karena pada dasarnya desa ini tepat menghadap ke arah selat makassar.
Kami bermukim di desa sudut pulau ini, tumbuh cepat dan hidup damai disini, hingga 8 tahun akupun lulus sekolah dasar (SD) di kabupaten Kotabaru ini.
![]() |
| Di Siring laut kotabaru kalimantan selatan (iconnya), diambil 2 tahun yang lalu.. |
![]() |
| Dermaga Sekapung, pulau sebuku. Alamnya masih kental n jernih |
Setelah itu aku dikirim untuk bersekolah di barru, makassar,
sulawesi selatan. Sementara kedua orang tuaku tetap tinggal di kalimantan. Aku
sendiri di barru ini, sebenarnya bersama sepupuku yang lebih duluan dikirim
setahun dariku. Aku seperti asing sekali dan terkadang kembali menemui orang
tuaku ke kalimantan setahun sekali, dan itupun hanya sekitar sebulan. Meski
katanya keluargaku bertebaran di sulawesi, tapi mereka berada di daerah yang
cukup jauh dariku, aku tidak bisa berbuat banyak dan tinggal menikmati hidup
baruku ditangah orang-orang baru. 6 tahun di barru ditengah orang-orang dari
seluruh penjuru nusantara dari sabang sampai marauke, membuatku banyak
mengerti tentang keragaman, aku sungguh menemukan banyak pengalaman di
sulawesi selatan. Setelah 6 tahun itu akhirnya aku tamat SMP dan SMA.
![]() |
| Pelabuhan garongkong Kab. Barru, Sul-Sel |
![]() |
| trek menuju puncak Paccekke, sebuah gunung tak jauh dari Pondok |
![]() |
| memasuki Mattampa WaterBoom, Kab. Pangkep. Sul-Sel |
![]() |
| Pantai tanjung bunga, Kota Makassar, Sul-Sel |
![]() |
| salah satu pantai di kota Polman, Sulawesi Barat |
![]() |
| Khas daerah mandar (ikan indosiar+baje+cumi ), Kab. Majene, Sulawesi Barat |
Setelah itu akau juga sempat masuk ke sebuah yayasan Tahfizul Qur'an (Hafalan Al-Qur'an) di bojo, Kab. Barru, Sulawesi Selatan. Sebuah yayasan milik mantan Gubernur Sulawesi Selatan, Bpk. Amin Syam, dan tepat bersebelahan dengan rumah megah beliau. Namun tahfidz di sini tidak berlangsung lama, hanya sekitar satu bulan setengah karena aku harus mendaftar untuk melanjutkan kuliah.
Setelah itu aku bertolak dari bandara Sultan Hasanuddin menuju Juanda, Surabaya. Kemudian aku mendaftarkan diri di UMM, Malang (Jawa Timur) untuk melanjutkan kuliah. Sudah hampir setahun kini aku di malang, berkuliah di jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
![]() |
| saat muraja'ah didalam mesjid Al-Amin (yayasan) |
![]() |
| Mesjid Al-Amin tampak samping, sering disebut mesjid Kubah Emas. |
Setelah itu aku bertolak dari bandara Sultan Hasanuddin menuju Juanda, Surabaya. Kemudian aku mendaftarkan diri di UMM, Malang (Jawa Timur) untuk melanjutkan kuliah. Sudah hampir setahun kini aku di malang, berkuliah di jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Keinginan terbesarku sekarang hanyalah pulang, pulang, dan
pulang sekedar melepas rindu dan penat perjalanan ini. Yaitu pulang ke negeri tetangga
Malaysia tempatku memulai semua sejarahku ini. I do want back god !! .
Ada perasaan baru dan berbeda disetiap tempat yang ku datangi,
semuanya membuatku lebih mengerti. Banyaknya kultur dan budaya yang
kusaksikan telah banyak mengajariku tentang bersikap. Beragam guru dan
orang-orang disekitarku disetiap tempat berbeda yang ku datangi, mereka sangat
membantuku menemukan bongkahan titik cerah dari setiap sudut unsur kehidupan. Dan
aku sangat tahu bahwa semua itu telah berhasil memberikan insfirasi-insfirasi terhebat
untukku.
Thanks to
Malaysia
Thanks to
Pulau Sebuku, Kotabaru, Kalimantan selatan
Thanks
to Barru, Makassar, Sulawesi Selatan
Thanks to
Polman, Sulawesi barat
Thanks to
Malang, Jawa timur
Khususnya
thanks to my Indonesia.















0 comments