Hujan Resah - Bercerita Eps. 2
January 22, 2014
" uhh dingiin " desahku subuh ini.
Diluar alam masih gelap, tak ada sinar sama sekali bahkan bintang gemintang sekalipun, mereka tertutupi gumpalan awan hitam yang berbaris rapi dibawah langit. Pun tak ada suara apapun selain deraian rintikan air hujan yang bersahutan membawa kesejukan, bahkan desahan kesejukannya kini meniup gorden kamarku satu satunya, gorden yang berwarna hijau itu terlihat menari-nari bersama alunan rintikan hujan di atap kamarku. Ku tarik kuat-kuat selimut dari bawah perutku hingga menutupi seluruh tubuhku, ku lirik jam tanganku agak lama , rupanya masih pukul 3 dini hari. Kesejukan ini telah membangunkan tidur lelapku bersama mimpi-mimpi indah didalamnya, kini mimpi indah itu terputus tak tahu apakah masih bersambung ataukah sudah tamat. Aku membalikkan badanku mencari posisi nyaman untuk merayu mataku tertutup lagi, entah berapa lama aku merayu mataku tapi tak pernah berhasil, sepertinya gemuruh dihatiku ini telah mematahkan rayuanku itu.
Resah sekali rasanya terbangun bersama kegalauan yang tercipta dari malam sebelumnya, hingga denyut resah seakan berdesakan dalam jantung hatiku. Ku ulurkan tanganku meraba kesana-sini permukaan meja belajar disamping ranjangku dan kuraih hp ku , kulihat dan sinar hp ini menyilaukan mataku. Kubaca satu persatu whatsapp yang masuk tadi malam setelah aku tertidur. Hanya ada satu pengirim tapi ada banyak resah yang dikirimkan kepadaku, sungguh subuh sejuk ini telah menampung bnyak sekali kesedihanku.
Aku kembali membaca pesan itu berulang kali , tak terasa air mataku kini mengalir dari sela-sela pelopak mataku yang belum terbuka sepenuhnya, perlahan dan semakin lama mulai membanjiri permukan wajah dan bantal tidurku. Ingin sekali rasanya aku bangkit dan keluar menangis diterpa hujan agar tak ada yang mampu membedakan antara air mataku dan air hujan , agar tak ada yang tahu tentang tangisan kesedihanku ini bahkan hujan sekalipun. ingin sekali rasanya aku menyelam kedalam dasar danau agar tak ada yang mendengar isak tangisku bahkan ikan-ikan sekalipun, Ingin rasanya aku terbang meraih awan-awan tipis yang bergantung dibawah langit agar tak ada yang mendengar jerit kegelisahan jiwaku bahkan burung-burung sekalipun.
Tak ada satupun kedamaian lahir dalam hatiku saat ini, mereka menjauhiku, terlempar jauh terkalahkan oleh kesedihan ini.
" kamu fikir aku suka ? " itulah penggalan salah satu pesan di whatsappku. Aku tak tahu lagi mengukur seberapa dahsyat getaran dalam jiwaku, jika ku sederhanakan, getaran itu lebih dahsyat daripada sebuah gempa bumi, lebih ganas dari pada angin topan, dan lebih menghancurkan dari pada sebuah tsunami. Pesan-pesan itu seperti salju yang menerpa hatiku, meski sepintas terlihat indah tapi ia membekukan kebahagiaanku. Aku tak tahu apa yang mesti kulakukan bersama kebodohanku ini, mungkin pujaan hatiku mulai membenciku karena tingkah-tingkah bodohku.
Badanku masih dibaluti selimut bergambar Manchester United di atas ranjang, tak terasa banyak waktu telah larut dalam ratapan kesedihanku. Sesekali ku lirik hp ku, antara mau dan tidak mau membalas pesan-pesan itu. Meskipun aku ingin membalasnya, tapi aku bahkan tak tahu apa yang harus ku katakan. Kusimpan kembali Hp ku d atas meja. Aku bangkit dan mengambil air wudhu. Dalam langkahku disela-sela terpaan air hujan menuju mesjid, kini aku mulai menemukan sejenak kedamaian. Dari kejauhan lampu-lampu jalanan samar-samar terhalangi air hujan. Aku berhenti sejenak bersemayam dibawah tiang-tiang tebal jembatan, hanya ada lantunan azan yang merdu bersahut-sahutan antara mesjid satu dan yang lainya bersama deraian aliran air sungai di bawah jembatan, bahkan ayam-ayam tak berkokok dan burung-burungpun tak berkicau subuh ini. Bersama semilir angin sepoi-sepoi basah, aku kembali berjalan ke mesjid. Setelah selesai dan jama'ah satu persatu meninggalkan mesjid, hingga hanya ada imam mesjid dan aku. Ku tengadahkan tanganku. Dan dipenghujung menujatku itu, aku menangis sendu bersama tanganku yang mulai kaku,
" Tuhan, aku tak tahu petunjuk apa dari semua ini, aku hanya mencintai tapi cinta itu menjauhiku, kenapa ketika aku mencintai harus sesakit ini. Tuhan, aku tidak mengharapkan orang lain untuk hidupku, aku hanya menginginkan dia yang membuatku rapuh
seperti ini " Satu hal yang baru kusadari, cinta ini telah membuatku rapuh.
Dalam perjalan pulang dari mesjid, tak henti-hentinya aku berfikir tentang apa yang harus kulakukan untuk mengakhiri kegelisahan ini. Pagi ini tampak sinar fajar mulai mengintip dari balik gunung dikejauhan sana, hanya pegunungan tinggi di depan yang selalu ku perhatikan dari tadi bersama kebingunganku. Gerimis hujan masih menghiasi cakrawala, perlahan dan lembut menerpa wajah dan pakaianku. Aku terus berjalan hingga tiba di kamarku. Mulai ku benahi tempat tidurku, selimut lebar ini ku lipat dan ku masukkan kedalam lemari, dan kamar sempitku kini nampak luas kembali tanpa selimut terbentang di atas ranjang. Ku raih hp ku dari atas meja, tak ada pesan sama sekali. aku duduk di depan meja belajarku dan mulai mengambil kertas dan pulpen, ku coba menulis sebuah ungkapan kesedihan beserta tanggal hari ini, ku tempelkan tulisan itu di pojok kiri atas mading pribadi di kamarku. Kini terdapat satu ungkapan kesedihan diantara tulisan mimpi-mimpi dan kebahagiaanku di mading tepat diatas meja belajarku. kapanpun aku dapat melihat tulisan itu maka saat itu pula ingatanku akan selalu merekat tentang hari ini, bagaimanapun ini adalah kenangan terkuat dalam hidupku, ia takkan pernah hilang karena ia adalah saksi bisu perjuangan cintaku.
Inilah awal hari sabtu, ada banyak kesedihan yang membuka hari ini. Ku lihat jadwal kuliahku , sepertinya hanya ada satu mata kuliah hari ini dan itupun sore hari. Pagi ini aku kelaparan karena tadi malam tidak sempat makan, jadi aku menyempatkan diri ke toko sebelah ,
" ini berapa bu' ? " tanyaku sambil menunjukkan susu ultra milk kotak.
" tiga ribu lima ratus dek " jawabnya
" tambah ini jadi lima ribu ya bu', makasih bu " kataku seraya menyerahkan uang lima ribu lusuh. Hanya inilah pengantar sarapan pagiku, hanya ada susu kotak dan 3 potong roti kecil. Aku memang tak terbiasa sarapan dengan makan nasi, apalagi jika lauknya telur. Meski begitu, bukan berarti sarapanku selalu seperti ini, aku bahkan tak pernah sarapan setiap hari.
Sarapanpun selesai, aku membuka twitter di hp ku, ada banyak tweet ganas memukul relung hatiku, tweet sindiran pedas yang sepertinya mengarah kepadaku oleh pujaan hatiku. Hancur dan semakin berantakanlah perasaanku.
Aku tak tahu lagi apa yang akan ku lakukan. Ingin rasanya aku bersembunyi, menjauh dari kenyataan ini. ku lempar hp ku d atas ranjang, ku baringkan badanku sejenak untuk meredam jeritan dalam jiwaku. Tak lama, akupun meraih hp ku yang sudah low battery itu, ku kirimkan sebuah pesan maaf yang sebesar-besarnya kepada pujaan hatiku. Meski dalam ucapan balasannya memaafkanku tapi itu seakan tak mengubah kesedihanku. Aku mungkin salah, dan memang sangat salah. Aku hanya menyatakan cintaku meski ku tahu cinta itu tak akan terbalas. Namun, aku sangat berambisi memaksa keadaan agar aku dapat memilikinya sebagai pasangan tulang rusukku. Dan yang terpenting, aku tak pernah merasa segila ini mencintai seseorang. Dalam penggelan pesannya " Kamu seharusnya kenal aku dulu orangnya seperti apa " . Aku semakin bingung, " bagaimana bisa aku mengenalmu lebih jauh, bahkan kamu tidak memberikan kesempatan untuk itu " gumamku dalam hati.
Jam dinding dikamarku rasanya lambat sekali berputar, mungkin batrainya yang sudah hampir mati, oh ternyata bukan, gemuruh dihatiku inilah yang membuatnya seakan lambat. Ku urungkan niatku untuk mengirim pesan kepada pujaan hatiku, karena yang ku tahu, pujaan hatiku tak akan membalasnya. Dia memiliki kepribadian unik nan sempurna di mataku, dia hanya bisa dihubungi pada jam-jam tertentu, sepertinya antara waktu kuliah, belajar, dan santai semuanya tertata rapi. Siapa yang tidak mabuk kepayang ketika menemukan wanita berkepribadian seperti itu, dan karenanya juga hatiku retak dan pecah menjadi puing-puing lusuh tak berdaya dan lemah hanya karena belum mampu meraih hati Indahnya. Ku persembahkan sebuah cinta suci ini untuk pujaan hatiku, tapi sepertinya dia bahkan tak terpikat oleh kesucian cintaku ini.
Waktu beranjak semakin siang, sinar matahari panas kini memantul di teras kosku. Aku beranjak keluar membawa gitar butut yang selalu setia menemani saat-saat hampaku.
" Aku terlanjur cinta kepadamu, ,
dan telah ku berikan seluruh hatiku, ,
tapi mengapa baru kini kau pertanyakan, ,
cintaku, , " Ku lantunkan sebuah lagu hits Pasha feet Rossa yang berjudul terlanjur cinta. Semakin lama semakin aku menjiwai lagu itu, ku lihat kakek tetangga kosku nampaknya menikmati lantunan laguku. Aku tak tahu apa yang ada dibenaknya, mungkinkah dia terkesima dengan suara sederhanaku, ataukah dia juga menghayati lirik demi lirik dari lagu ini. Oh my god, aku baru sadar, dia pasti tahu kalau aku menyimpan banyak resah dalam hatiku. Ku hentikan nyanyianku. Aku terdiam sejenak lalu berpaling kepadanya, dia sedikit tersenyum melihatku. " Aku juga pernah muda nak " teriaknya agak sedikit tertawa. Akupun membalas dengan sedikit senyum simpul untuknya. ku lanjutkan lagi nyanyianku berulang kali, hingga akupun berhenti karena kelelahan. Dari dalam kamar hp ku berdering, aku sejenak berfikir sms dari siapakah itu, aku bangkit dan melihatnya, sms dari teman organisasi rupanya.
Tiba waktu makan siang, tapi aku bahkan tidak berniat untuk makan, tak ada selera maka tak ada lapar. kira-kira seperti itulah keadaanku saat ini. Kuhabiskan waktu makan siang ini dengan lamunan panjang, lamunan tentang perjumpaan dengan pujaan hatiku. Aku masih ingat dan tentu selalu ingat, saat pertama kali aku menatapnya dalam sebuah acara di kampusku. Dia hanya duduk santai di kursinya, hanya diam dan sesekali melirik keluar jendela yang tepat disampingnya. Aku tak tahu apa yang ada di luar jendela itu karena aku duduk jauh pada sisi yang berbeda. Aku tak pernah berhenti menatapnya, hingga tanpa sengaja dia melihat kearahku, mata kami saat itu bertemu, akupun sangat malu, pertemuan tatapan itu hanya sepintas karena aku langsung membuang pandanganku pada yang lain. Bahkan meski sepintas, dari kejauhan itu aku merasakan sesuatu dalam tatapannya, tatapan yang sungguh berbeda dengan yang lainnya. Ku lirik lagi, dia mulai memasang kaca matanya, kulihat nampak semakin anggun pujaanku saat itu. Aku mulai ingin mencari tahu namanya, berfikir panjang dan mulai mengabaikan pemateri berbicara didepan, hingga materi selesai dan panitia acara mempersilahkan melaksanakan shalat, akupun berdiri dan berjalan keluar melewati kursi tempat duduknya dan ku lihat namanya pada Kartu Pengenalnya yang tergeletak. Aku melangkah keluar dengan cepat, dalam hati aku kegirangan setengah mati. Sampai Akhirnya kamipun saling kenal. Aku melewatkan banyak kesempatan waktu itu, aku bahkan seolah cuek dengan keberadaanya karena aku hanya memperhatikannya dalam diamku. Tak ada reaksi berlebihan yang ku perlihatkan, semuanya mengalir biasa seperti air sungai.
Semilir angin yang bertiup membawa peringatan hujan telah menyadarkan lamunanku. Awan hitam mulai bergantung dibawah langit. Tanpa berfikir panjang, mulai ku angkat tempat jemuran mini yang dari tadi terpanggang sinar matahari, ku lihat bunga-bunga dihalaman bergoyang-goyang tak beraturan dan dedaunan pohon besar diseberang jalan mulai gugur dan beterbangan hinggap didepan kamarku. Aku masuk kekamar sambil menunggu hujan turun, sepertinya alam ini sangat mendukung kesedihan hatiku. Ku ambil hp ku, mulai ku baca satu persatu status di beranda facebookku yang hampir semuanya tentang cinta, rupanya semua orang tertarik dengan cinta. Aku berhenti pada status tentang Move On, ku buka profil yang mengupdatenya, seorang wanita sendu yang sepertinya dirundung perpisahan dalam cinta. Aku terdiam sejenak, dan hati kecilku mulai merasa ada yang tak benar tentang ini, yakni tentang Move On dalam cinta. Bagaimana bisa ada Move On dalam cinta, cinta tetaplah cinta, ia tak akan redup meski termakan zaman, sekiranya perasaan dalam hati itu bisa hilang berarti itu bukanlah cinta. Bagaimana bisa mereka berbicara tentang cinta padahal mereka tak tahu makna dari cinta, karena yang ku tahu, cinta tak semudah yang orang katakan karena sebenarnya cinta itu lebih rumit dari yang kita bayangkan. Aku mulai memberontak sendiri tak terima ungkapan mereka tentang Move On, lalu ku tulis sebuah status kritikan di facebook tentang itu. Aku bukan tanpa alasan beranggapan seperti itu dan aku bukan sok ahli dalam percintaan, aku hanya mencintai seorang wanita, dia bahkan membenciku, tapi cinta tetaplah cinta, aku tetap mencintainya meski dalam keadaan bagaimanapun. Bukankah cinta itu suci, sebuah ketulusan dalam hati, jadi meski kita tersakiti itu tidak membuat kita berhenti untuk mencintai. Oh Aku serasa bijak sekali siang ini.
Mendekati waktu kuliah, hujan masih membelai sore ini. Ku persiapkan diriku dan meraih tumpukan buku dari meja, ku masukkan semuanya kedalam tas sederhana yang tergantung rendah di belakang pintu. Aku keluar modar-mandir meraba rintik hujan, tak terlalu deras sepertinya tapi masih tak dapat dikatakan sebagai gerimis. Hingga 10 menit tersisa, aku tak lagi punya pilihan lain selain berlari menerobos hujan. Sepintas aku menyesalkan diriku, kenapa aku tak pernah meluangkan waktu membeli payung di musim hujan seperti ini. Aku tiba di kampus kelelahan, nafasku tak beraturan masuk ke dalam kelas dan itupun aku sudah telat beberap menit. Aku duduk disudut dibelakang sambil memandang keluar dari sela-sela kaca jendela yang berbaris miring bersama sedikit bongkahan debu dipermukaannya.
to be continued

0 comments