Diary Kebahagiaan
December 23, 2013
“Sekian
dulu pelajaran kita hari ini dan akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya”
dosen pengantar ekonomi makro menutup pembelajaran siang ini.
“Tunggu
aku diparkiran yaa”kataku pada rio, teman sekelasku.
“Iyaa
, kamu mau kemana dulu sih”tanyanya.
“Mau
ke kantin sebelah, nggk lama kok”jawabku.
Aku
bergegas memasukkan binderku kedalam tas, siang ini aku merindukan seseorang
yang kudambakan. Aku berpura-pura belanja dikantin gedung sebelah hanya ingin
melihat pujaanku meski sepintas saja, dan ternyata dugaanku tak salah, dia
sedang duduk di sudut kantin bersama sebagian temannya. Rasanya aku tak ingin
beranjak dari kantin itu tapi temanku sudah agak lama menunggu, mau tak mau
akupun berlalu.
“Kamu
beli apaan di kantin”tanyanya ketika aku sampai di parkiran.
“Ini
aja sih , ini” akupun menyodorkan minuman kepadanya.
“Ohh,
yaa udah pulang yuk” ajaknya.
Meski
siang ini aku pulang dan tiba di kosku tapi fikiranku tetap merekat pada
pujaanku, ingin rasanya aku menghampirinya sekedar untuk berkenalan dengannya.
Aku pertama kali melihatnya ketika dia mencari buku dan berbincang-bincang
bersama temannya tak jauh dari tempatku duduk di perpustakaan kampusku, sekilas kudengar
nada bicaranya, sungguh nada yang indah, sejenak kuperhatikan tingkahnya
sepertinya dia orang yang sangat lembut, dari situlah hati kecilku tak pernah
lepas merindukan kelembutan itu, ingin sekali rasanya hati ini dibelai oleh kelembutan
cintanya.
Sore
ini aku mulai menulis sejuta kekagumanku pada sang pujaan , ku tulis seindah
mungkin lalu kutempel di dinding tepat di atas meja belajar dikamarku, berharap
suntikan semangat terus menghujaniku untuk terus belajar setiap membacanya.
Setiap malam wajahnya seakan telah menjadi doa pengantar tidurku, wajah lembut
itu sungguh tak mampu lepas dari fikiranku, bahkan sesekali dirinya menjadi
aktor hebat dalam mimpi-mimpi indahku. Dikampus aku mengatakan kepada temanku
tentang kekagumanku itu.
“Sepertinya
kamu harus fikir-fikir dulu bro” sarannya.
“Loh,
emank kenapa “ tanyaku sedikit tak terima.
“Bukannya
kamu nggk boleh suka sama dia, Cuma lihat dirimu bro, kamu tidak sesuci dia”jawabnya.
Kini
aku baru sadar, kelembutan nada dan sikapnya merupakan jati dirinya, ku dengar
dia adalah seorang yang sangat ramah , nada bicaranya lembut, sama sekali tak ada luapan emosi dalam setiap
perkataannya. Aku mulai bercermin , menatap dalam-dalam diriku dan menyaksikan
setiap kekuranganku, nada bicara yang kasar, tingkah yang tak sopan, dan sejuta
keburukan lainya adalah milikku. Kini aku mulai berfikir, pantaskah jiwa kotor
ini untuk seorang yang suci ? , kegelisahaaan mulai menyiksaku, mendera raga jiwaku.
“Menurut
kamu bagaimana”kataku pada rio.
“Iya
benar juga sih, sepertinya kamu harus
berubah”jawabnya.
“Haha
konyol kan, hanya karena seorang wanita aku harus bagini ?” kataku.
“Tapi
kamu tidak punya jalan lain”jawabnya lagi
“Atau
kamu akan mengalihkan ketertarikanmu pada wanita yang lain ? ” lanjutnya.
“Itu
tidak mungkin bro, ini tentang hati”kataku berperasaan.
“Yaa
itu , ini tentang hati dan konyol itu tak pernah ada”katanya menyemangatiku.
Emmmhhufff
aku menarik nafas panjang , sejuta
fikiran kini gentayangan dalam kepalaku
“Tapi
apa kata orang-orang ? kayak aku nggk bisa cari yang lain saja yang tanpa harus
merubah kepribadianku”kataku minta pendapatnya.
“Sekali
lagi ini tentang hati , kamu tidak akan bisa mengelak darinya”jawabnya, dia
mencoba meyakinkanku.
“Tapi
bukankah setelah itu dia kan menerimaku tidak pada jati diriku yang sebenarnya,
apa itu tidak terlihat seperti kepalsuan ? ”jawabku.
“Dan
kamu tidak akan bisa menemukan seorang yang baik sebelum kamu benar-benar
berkepribadian baik”jawabnya lagi.
Perbincanganpu
ku akhiri, tak tahan terlalu berat rasanya fikiran membebaniku. Aku pulang dan berbaring cantik dikamarku,
sembari menunggu tertidur, kembali sang pujaan hati memenuhi ruang khayalku,
khayalan yang sejenak menghidupkan senyumanku.
Sebuh
ini aku terbangun lebih awal dari biasanya, aku keluar membiarkan desahan kesejukan
angin subuh ini menyentuh ragaku, langit kekuningan oleh intipan mentari pagi
melengkapi panorama keindahan awal hari ini.
Hari
indah hari rabu, aku melangkah gembira dan bersemangat meyusuri koridor kampus,
sebenarnya hari ini tak ada kuliah, kedatanganku hanya untuk melihat sang pujaan
hati dan berencana mengajaknya berkenalan. Tak lama akupun menemukannya ,
sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Akupun mendekatinya berpura-pura
menunggu lip turun,
“Mau
kemana mb’ ? ”tanyaku sok kenal.
“
hah oh Lagi nungguin temen”jawabnya agak kaget aku bertanya padanya.
“Mmm
, disini jurusan apa mb’ ? “
“Bahasa
inggris”jawabnya singkat.
“Emm
Boleh kenalan nggk” tanyaku lagi.
“Annisa”
“Aku
Aldhy, dari jurusan akuntansi”
“
Duluan yaa” dia berlalu, teman yang
ditunggunya sudah datang.
“Iyaa
hati-hati mb ehh annisa”
Huhhh
aku bergegas berbalik arah pulang , rencana berkenalanpun sukses, aku senang
banget siang ini, benar-benar rabu yang indah. Aku mulai berfikir untuk
menyatakan ketertarikaku padanya tapi bahkan aku sendiri tak tahu harus bagaimana
menyikapi ini,. Kebetulan aku ingat punya kenalan yang juga jurusan bahasa
inggris di kampusku, Randy. Akupun menulis sejumput perasaanku, sekuntum
ketertarikaku dan seikat cintaku dalam sebuah diary kecil, kutulis sebagus
mungkin dan tak lupa menyisipkan nuansa romantik didalamnya, pada akhirnya aku
memberikan diary itu kepadanya melalui temanku.
Tak
cukup sehari, balasan darinya sampai padaku. Hanya sepucuk kertas bertuliskan
diatasnya “tidak, aku tidak punya alasan”. Jawaban singkat, dan jelas mencabik-cabik
hatiku. Lembut sekali sepertinya jawaban itu mengajariku. Kini aku sadar, aku mulai
memperbaiki diriku, mendalami agama, bersikap sopan, ramah dan bergaul sewajarnya.
Aku tidak bisa mendustai diriku, rasa ini benar-benar telah membuatku berubah
180 derajat lebih baik. Sejak saat itu aku tak pernah memikirkan pujaanku, aku
hanya memikirkan bagaiman aku bisa benar-benar menjadi manusia yang seutuhnya.
Kini aku bukanlah diriku karena kini aku lebuh baik dari itu.
“Heyy
bro, coba tebak ? ”kata Randy
“Apaan
? ”tanyaku
“Ini
dia nyawamu”katanya lagi sambil tertawa lepas
“Haha
alay lu, apaan sih ? “ diapun memberiku selebaran putih, sepertinya sebuah
surat. Tanpa berfikir panjang akupun membukanya, surat dari pujaanku rupanya,
kini benar-benar sebuah surat bukan sekedar tulisan singkat di atas kertas
seperti sebelumnya. Belum sempat kubaca, aku kembali menutup surat itu dan
menyimpannya.
“Terima
kasih banyak yaa, sampaikan salamku”kataku padanya.
Dia
hanya mengangkat jempol , “ya udah aku duluan yaa”katanya lagi.
Sore
itu aku duduk sendirian digazebo tepian danau di kampusku, mulai kubuka dan
kubaca kata demi kata dalam surat itu. Aku membacanya berkali-kali, antara
bingung dan tak percaya, bagaimana mungkin dia membenciku, bukankah aku sudah cukup
lebih baik sekarang ? . kembali ku baca surat itu dan aku berhenti pada tulisan
“ku dengar katanya kamu sekarang sudah
berubah, kamu fikir aku akan suka itu ? , aku malah semakin membencimu”. Aku
kaget hampir mati, jemariku mulai membeku. Aku semakin bingung tentang kenyataan
ini, Benarkah pribadi lembut itu semurka itu padaku, bahkan ketika aku
memperbaiki diriku itu adalah sebuah kesalahan, lalu dimana kebenarannya Tuhan.
Aku
termenung dibuatnya, dan
“jika
kau mencintaiku, bukan begitu caranya” terdengar suara lembut entah dari mana. Aku
kaget dan menoleh kebelakang, dia tepat berada agak jauh dibelakangku.
“Aku
tidak pernah menginginkan seorang yang merubah dirinya hanya karena aku. Semua
orang tahu, menjadi lebih baik itu hal mulia, tapi kamu melakukan kesalahan”
lanjutnya.
“Kesalahan
? “ tanyaku sangat kebingungan.
“Kamu
tidak melibatkan ketulusan, keikhlasan, dan kemurnian niat didalamnya”jawabnya.
Aku
terdiam sejenak,
“Lalu
aku harus bagaimana ? “ tanayaku. Tak ada jawaban, aku menoleh dan dia telah
jauh dari pandanganku. Sungguh ini semakin membingungkanku.
Keesokan
harinya,
“aku
dengar-dengar nih ya di kelas, katanya annisa mutusin pacarnya tepat saat dia
menerima diary kecil dari kamu”kata randy padaku mendatangi kelasku
“Lohh,
dia sudah punya pacar ? terus maksudnya apa ? “tanyaku.
“Itu
dia, katanya sih itu gara-gara kamu”jawabnya.
“Maksud
kamu dia mau gitu ? “ tanyaku “Tapi itu tidak mungkin, itu tidak seperti yang
terjadi” lanjutku
Sore
ini aku menunggu pujaan hatiku tepat di mulut gedung, aku benar-benar bingung
dengan fenomena ini, namun penantiaanku sepertinya sia-sia, dia tak kunjung
datang ke kampus. Besoknya aku kembali menunggunya, tepat seperti sehari
sebelumnya, lagi-lagi yang ku tunggu tak kunjung menampakkan diri. Kini aku
diselimuti kegalauan, kegalauan yang sempurna. Seribu tanda tanya berdesakan di
kepalaku, sebenarnya apa yang terjadi ? ada apa dengannya ? apa yang
dilakukannya ? . kini tiba hari kelima aku menunggunya, hingga mentari hampir terbenam
dia tak pernah datang juga, sungguh semakin menyiksa batinku.
“cinta
? , heh konyol” kataku dengan nada tinggi melampiaskan emosi. “cinta ada hanya
untuk menyiksa” lanjutku semakin emosi. Air mataku kini tak terbendung lagi,
aku kini melampiaskan kekesalanku pada cinta, cintalah tersangka bersalah, dialah
penjahatnya, dan dialah yang membuatku seperti ini.
“Ekhemm,
ngapain kamu ? “ , kali ini aku yakin kalau ini suaranya, dan itu benar. “ ini
ambil” lanjutnya. Aku mengambil sebuah diary kecil yang di berikan padaku lalu
iapun pergi.
“Aku
sejenak hilang untuk menenangkan jiwaku, tak dapat kupungkiri aku telah melihat
keikhlasan dalam tatapanmu, dan itu membuat perasaanku berkecamuk dahsyat
bersama cintamu. Kini usahamu berbuah manis meski sebenarnya sejak dulu akupun
menginginkan cinta darimu. Kini yang terpenting, cinta itu adalah ketulusan
yang merekat kuat dalam hati, bukan sekedar tingkah dan hasrat untuk memiliki.”
Itulah penggalan isi diary itu. Kebahagiaanpun kini menjadi milikku dan menjadi
nafas-nafas hatiku setiap hari, thank’s god.
SEKIAN
0 comments