Dongengku untuk Tuhan - Bercerita Eps. Special

December 26, 2013



Aku melarutkan banyak air mata ketika menulis ini, bukan bagus tidaknya tulisan ini yang penting bagiku, akan tetapi makna intrinsik yang terkandung didalamnya saat aku menulisnya.


Malam ini aku menemukan banyak kegelisahan dan kesedihan, mereka mendatangiku dan memaksa masuk dalam jiwaku. Aku tak dapat menghalanginya dan kesedihan itu berhasil memaksa air mataku mengalir menjajah seluruh permukaan wajahku, perlahan dan semakin hebat kini air mata itu merajai hingga separuh tubuhku, bahkan keringat dahsyat bercucuran berdesakan keluar dari sela pori-poriku.
Malam selasa penuh kesedihan, aku sangat merindukan ayah dan ibuku yang jauh disana, hingga aku hanya bisa meluapkan sejuta kerinduanku dalam rangkaian kata ini meski aku sadar ini takkan mampu sepenuhnya menggambarkan kerinduanku dan kesedihanku.

Malam selasa menyedihkan telah mencatat akhir kisah cintaku, aku baru sadar bahwa aku tak pantas untuk mencintai sebelum aku benar-benar mengistimewakan cinta untuk kedua orang tuaku. Masih merekat kuat dalam ingatanku tentang tingkah bodohku, tentang kesalahanku, dan tentang seluruh kekecewaan yang ku ciptakan untuk kedua orang tuaku. Aku ingin sekali menangis lepas karena semua itu. Ingin sekali aku memeluk mereka kuat-kuat, mencium kedua tangan dan pipinyanya, dan menangis dipundaknya. Tapi entah kenapa aku terkadang sulit sekali mengekspresikan itu ketika berhadapan langsung dengan mereka , apa itu karena aku seorang lelaki ? sehingga aku tak mampu memperlihatkan perasaanku ? , atau Mungkinkah karena aku berjauhan dengan mereka ?, tapi bukankah sedari dulu jarak telah memisahkan kami tujuh tahun lebih dan membiarkan kami berkumpul hanya sekedar untuk melaksanakan idhul fitri bersama dikampung halamanku yang sangat sederhana, kampung terpencil yang jauh dari kota di penghujung sebuah pulau di kalimantan. Lalu apa benar karena aku seorang lelaki hingga seperti ini tuhan ?.

Aku menyesalkan diriku, ibuku yang kesepian dirumah tanpaku, melalui hari-harinya tanpaku, melewati malam-malamnya tanpa kehadiranku disisinya, karena aku adalah putra satu-satunya yang ia punya. Kini ibuku semakin lama semakin menua, uban rambutnya sudah tak terjumlah, keriput sudah lama bersarang di wajahnya, lalu Apa aku tidak diperkenankan untuk membiarkan masa tua ibuku terhiasi dengan keberadaanku ?. Aku merindukan ibuku, Senyumnya yang menawan selalu menyemangatiku meski aku sadar bahwa ada banyak kesedihan yang tersembunyi dalam senyumnya ketika harus melepasku pergi jauh, bahkan ibuku selalu menyiapkan pakaianku ketika aku akan pergi maski aku telah mempersiapkannya, tapi dia selalau merasa kurang jika dia belum memastikan apa yang telah kupersiapkan, baginya aku adalah selalu seperti dulu dan masih harus selalu diperhatikan meski sekedar perkara yang sangat sepele, tapi aku malah terkadang seolah acuh dan banyak tidak menyadari itu. Ibu yang selalu memberikan suntikan semangat dalam keterpurukanku dan dia tak pernah ingin membiarkanku berada dalam keterpurukan, dia tak pernah ingin melihat anak satu-satunya berantakan karena tak tahu alur kehidupan, dan sungguh itu merupakan cinta yang tak pernah bisa ku balas untuknya.

Aku menyalahkan diriku, menyalahkan kehidupan yang memisahkanku. Belum lagi seorang ayah yang membesarkan jiwaku, membesarkan semangatku, dia yang rela banting tulang dan kerja keras di usianya yang sudah tua hanya untuk menghidupiku dan membiarkanku menikmati apa yang sudah menjadi keinginanku, bahkan dia menyembunyikan banyak kesulitannya dariku dan tak pernah membiarkanku untuk tahu tentang kesulitannya itu, bahkan dia tak pernah berniat sedikitpun untuk menyulitkanku. Ayah yang yang kini sudah buta warna dan itu hampir tidak kusadari, untung saja aku sempat membaca laporan kesehatan dari perusahaan tempat ayahku bekerja yang menyebutkan bahwa ketajaman matanya kini sudah redup, pendengaranya yang juga sudah mulai termakan usia. Tuhan berilah kekuatan untuk Ayahku. Dialah pahlawan terbesar dalam hidupku, dia Ayah yang setiap subuh membangunkanku, mengingatkanku untuk selalu shalat dimanapun aku berada , memasukkanku ke pesantren untuk menjadikanku anak yang baik, bahkan keinginan besar ayahku yang paling kusesali karena tak dapat ku wujudkan yakni untuk membiayaiku kuliah di mesir untuk mendalami agama lebih jauh. Penyesalan besar yang kini ku hadapi, aku kuliah di daerah yang cukup jauh dari ayahku dan tidak sedang mendalami agama, aku menyesali pilihanku dan aku menemukan banyak kesedihan dalam mata ayahku, dia menyembunyikan sejuta ketidak setujuannya, tapi dia membiarkan dan berusaha memenuhi apa yang sudah menjadi keinginanku, dia berusaha tersenyum meski tak terima, melepaskan aku pergi dengan kesedihan yang tersirat dalam tatapannya. Aku masih ingat ketika dia mengantarku untuk pergi, aku memeluknya lama bersama isak tangisku yang tak terbendung, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya tentang kesalahanku dan tentang pilihanku.

Aku menyesalakan diriku, Ayahku selalu menyembunyikan sejuta keinginannya padaku dan hal itu sangat terlambat ku sadari, aku jarang sekali memperhatikannya, melewatkan waktu bersamanya, atau bahkan hanya sekedar untuk memijit-mijit badannya yang sudah menua dan perihatin dengan jalannya yang kini sudah mulai rapuh tak sekuat dulu.

Dari semuanya, aku menyalahkan diriku karena aku adalah anak tunggal yang tak mampu memenuhi keinginan kedua orangtuaku , dan aku hanya anak tunggal yang keinginanya selalu ingin terpenuhi. Kini aku sadar, Aku merusak dari awal dan aku harus memperbaiki itu, aku seharusnya melebarkan senyum mereka dengan keberhasilanku. Tuhan bantu aku berikan kekuatan untuk menciptakan rona kebahagiaan dalam hati kedua orang tuaku. Help me god, help n help.

                                                                                  Malang, Malam dalam Desember

You Might Also Like

0 comments